Jakarta, CNBC Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau cenderung melemah pada perdagangan sesi I Selasa (21/5/2024), setelah bergerak cukup volatil di awal sesi I hari ini.

Per pukul 10:00 WIB, IHSG melemah 0,14% ke posisi 7.256,16. Pada sesi I hari ini IHSG masih berada di level psikologis 7.200.

Nilai transaksi indeks pada sesi I hari ini sudah mencapai sekitar Rp 2,7 triliun dengan melibatkan 4,8 miliar saham yang berpindah tangan sebanyak 357.775 kali.

Secara sektoral, sektor energi menjadi pemberat terbesar IHSG di sesi I hari ini, yakni mencapai 1,17%.

Selain itu, beberapa saham juga terpantau menjadi penekan (laggard) IHSG pada sesi I hari ini. Berikut daftarnya.

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menjadi penekan terbesar IHSG pada sesi I hari ini, yakni mencapai 13,7 indeks poin.

Di awal sesi I hari ini, IHSG sempat bergerak naik turun di zona hijau dan zona merah, menandakan bahwa volatilitasnya cukup tinggi. Namun beberapa menit kemudian, IHSG cenderung bergerak di zona merah.

Perdagangan pekan ini yang cenderung pendek karena hanya berlangsung selama tiga hari disebabkan adanya libur panjang Hari Waisak menyebabkan investor cenderung kurang bergairah untuk memburu saham dan cenderung melakukan aksi profit taking, sehingga pergerakan IHSG pun bak ‘roller coaster’ di awal sesi I hari ini.

Selain itu, investor cenderung bertahan sembari menanti keputusan suku bunga terbaru Bank Indonesia (BI) yang akan diumumkan pada Rabu besok.

BI akan melakukan Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada hari ini dan besok. Hal ini akan menjadi perhatian pelaku pasar salah satunya yang ditunggu yakni suku bunga acuan.

Sebelumnya pada April 2024, BI cukup mengejutkan pasar dengan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bp) ke level 6,25%.

“Rapat dewan Gubernur memutuskan menaikkan BI rate,” ungkap Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers, Rabu (24/4/2024).

BI mengungkapkan alasan kenaikan suku bunga tersebut karena untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah dari kemungkinan memburuknya risiko global serta sebagai langkahpre-emptivedan forward looking untuk pastikan inflasi sesuai sasaran 2,5 plus minus 1% 2024 2025 sejalan dengan stance kebijakan prostabilitas.

Di sisi lain, semalam para pejabat bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve (The Fed) memberi komentar terkait inflasi dan suku bunga.

Pejabat Federal Reserve belum siap untuk mengatakan inflasi sedang menuju target bank sentral sebesar 2% setelah data pekan lalu menunjukkan pelonggaran tekanan harga konsumenpada bulan April, dan beberapa di antaranya pada hari Senin menyerukan kehati-hatian kebijakan yang berkelanjutan.

“Masih terlalu dini untuk mengatakan apakah perlambatan proses disinflasi baru-baru ini akan bertahan lama,” Wakil Ketua Fed Philip Jefferson mengatakan pada konferensi Mortgage Bankers Association di New York, bahkan ketika ia menyebut data bulan April “menggembirakan.”

Jefferson menggambarkan kebijakan moneter saat ini sebagai kebijakan yang membatasi danmenolak mengatakan apakah ia memperkirakan penurunan suku bunga akan dimulai tahun ini,hanya menyatakan bahwa ia akan dengan hati-hati menilai data ekonomi yang masuk,prospek, dan keseimbangan risiko.

Berbicara secara terpisah pada konferensi yang diadakan oleh Fed Atlanta, Wakil Ketua Pengawasan Fed Michael Barr, mengatakan pembacaan inflasi kuartal pertama yang “mengecewakan” “tidak memberi saya peningkatan kepercayaan diri yang saya harapkan dapat mendukung pelonggaran kebijakan moneter. “

Seperti Jefferson, Barr memperkuat pesan umum The Fed bahwa penurunan suku bunga yang sangat diantisipasi oleh pasar, akan ditunda sampai jelas bahwa inflasi akan kembali ke target The Fed sebesar 2%.

“Kami perlu memberikan kebijakan pembatasan kami beberapa waktu lagi agar dapat melanjutkan fungsinya,” kata Barr.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


Habis Cetak Rekor IHSG Balik Lesu, Saham Ini Biang Keroknya


(chd/chd)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *