Jakarta, CNBC Indonesia – Nilai tukar rupiah dibuka cenderung datar pada perdagangan hari ini.

Mengutip data Refinitiv, nilai tukar rupiah pada Senin (21/5/2024) pukul 09.02 WIB tercatat berada di angka Rp15.950 per dolar Amerika Serikat atau sama seperti penutupan sesi perdagangan pada akhir pekan lalu.


Pergerakan nilai tukar rupiah hari ini dibayangi oleh harapan para pelaku pasar akan pemangkasan suku bunga bank sentral AS The Federal Reserve pada tahun ini.

Menurut perangkat FedWatch, probabilitas The Fed memangkas suku bunga akan terjadi dua kali yakni pada pertemuan 18 September 2024 senilai 25 basis poin menjadi 5%-5,25%. Kemudian terjadi satu kali lagi pada pertemuan 18 Desember 2024 sebesar 25 basis poin menjadi 4,75%-5%.

Keyakinan pasar akan pemangkasan suku bunga terlihat lebih optimis dibanding awal pekan lalu, di mana kemungkinan FedRate akan turun hanya satu kali tahun ini. 

Keyakinan pasar terbangun berlandaskan data inflasi berdasarkan Indeks Harga Konsumen (consumer price index/CPI) naik 3,4%(year-on-year/yoy), lebih rendah dibandingkan periode bulan sebelumnya 3,5%.

Inflasi inti AS juga ikut mendingin pada periode April yakni 3,6% yoy. Dibandingkan dengan Maret yang tumbuh 3,8% yoy.

Inflasi menjadi tolak ukur bagi The Fed dalam kebijakan moneter. The Fed mematok target inflasi 2% untuk lebih yakin dalam menurunkan suku bunga yang tinggi.

Selain itu, rupiah juga didukung oleh tekanan DXY yang mereda. CNBC Indonesia memantau DXY saat ini per Senin (20/5/2024) pukul 07.14 WIB di 104,51, sudah terkoreksi 0,78% dalam seminggu.

Begitu pula dengan yield US Treasury terpantau sudah mulai melandai ke posisi 4,42%. Dalam sepekan yield obligasi acuan AS ini sudah turun sekitar 1,73%.

Yield obligasi acuan tenor 10 tahun Indonesia juga mengalami hal serupa, dengan melandai 2,44% dalam sepekan menjadi 6,80%. Ketika yield mulai turun, ini menunjukkan harga obligasi mulai naik, mengindikasi investor mulai memburu instrumen ini.

Saat ini investor juga menanti dua kabar penting dari Bank Indonesia yakni rilis neraca dagang dan pengumuman suku bunga.

Bank Indonesia (BI) akan merilis data Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) kuartal I-2024 yang terdiri dari transaksi berjalan (CA), transaksi modal dan finansial, dan lainnya.

Sebelumnya, Indonesia mencatat defisit transaksi berjalan sebesar US$1,29 miliar pada triwulan IV-2023 (0,4% PDB), meningkat dibandingkan dengan defisit US$1,0 miliar (0,3% dari PDB) pada kuartal III-2023.

Transaksi berjalan Indonesia jika dilihat secara setahun penuh, maka 2023 mengalami defisit US$1,6 miliar (0,1% dari PDB). Ini adalah kali pertama transaksi berjalan mengalami defisit sejak 2020 atau dalam tiga tahun terakhir. Kondisi ini juga berbanding terbalik jika dibandingkan akhir 2022, ketika transaksi berjalan RI mencatat surplus US$13,2 miliar.

Defisitnya transaksi berjalan menjadi sinyal akan pemburukan pada dua hal yakni melemahnya ekspor serta melebarnya defisit pendapatan primer.

Jika defisit transaksi berjalan terus-menerus terjadi, maka dikhawatirkan rupiah akan terus tertekan sehingga BI harus mengerek suku bunga. Bila suku bunga meningkat, maka aktivitas ekonomi bisa diperlambat. Harapannya impor barang bisa turun dan mengurangi beban pada transaksi berjalan.

Keesokan harinya pada Selasa (21/5/2024) dan Rabu (22/5/2024), BI akan melakukan Rapat Dewan Gubernur (RDG). Hal ini akan menjadi perhatian pelaku pasar salah satunya yang ditunggu yakni suku bunga acuan.

Sebelumnya pada April 2024, BI cukup mengejutkan pasar dengan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) ke level 6,25%.

 

CNBC INDONESIA RESEARCH

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


Banyak Kabar Genting AS, Dolar Masih Bertahan di Rp 16.000


(ras/ras)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *