Jakarta, CNBC Indonesia – Rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), setelah menguat signifikan pada 2 hari perdagangan sebelumnya.

Dilansir dari Refinitiv, rupiah dibuka melemah 0,19% di angka Rp16.070/US$ pada hari ini, Kamis (16/5/2024).

Sementara, DXY pada pukul 09.05 WIB naik ke angka 104,65 atau menguat 0,15%.

U.S. Bureau of Labor Statistics mengumumkan bahwa tingkat inflasi konsumen Amerika Serikat tercatat 3,4% secara tahunan (year on year/yoy) pada April 2024. Angka ini sesuai dengan perkiraan konsensus Trading Economics yang juga sebesar 3,4%. Tingkat inflasi ini mengalami penurunan dibanding periode Maret 2024 yang sebesar 3,5%.

Secara bulanan, inflasi AS tercatat berada di angka 0,3% pada April 2024, melandai dari 0,4% yang tercatat pada Maret.

Inflasi inti, yang tidak termasuk harga energi dan pangan, juga menunjukkan pelambatan. Inflasi inti tercatat 3,6% (yoy) pada April 2024, turun dari 3,8% (yoy) pada Maret 2024. Secara bulanan, inflasi inti juga melandai ke 0,3% pada April 2024 dari 0,4% pada Maret 2024.

Perlambatan inflasi ini, bersama dengan stagnasi penjualan ritel, menunjukkan adanya perlambatan dalam permintaan domestik. Hal ini sejalan dengan tujuan Federal Reserve (Fed) untuk mencapai “soft-landing” bagi ekonomi AS.

Survei perangkat CME FedWatch Tool juga menunjukkan bahwa ada probabilitas pemangkasan suku bunga The Fed sebanyak dua kali dengan total 50 basis poin (bps).

Hal ini menjadi angin segar bagi pasar keuangan domestik. Jika pemangkasan suku bunga benar terjadi, maka tekanan terhadap rupiah akan semakin minim.

Pada hari ini, Jumat (17/5/2024), akan ada sejumlah rilis data ekonomi dari China. Jika hasilnya melampaui ekspektasi, hal ini diharapkan dapat mendorong penguatan lebih lanjut bagi rupiah.

Menurut Trading Economics, produksi industri China periode April diperkirakan akan meningkat menjadi 5,5%, lebih tinggi dibandingkan Maret yang sebesar 4,5%. Produksi industri China tumbuh sebesar 4,5% pada Maret, lebih lambat dibandingkan pertumbuhan 7% pada periode Januari-Februari dan di bawah perkiraan pasar sebesar 5,4%.

China juga akan merilis data penting lainnya, yaitu penjualan ritel periode April. Konsensus memperkirakan penjualan ritel meningkat menjadi 3,8%, lebih tinggi dibandingkan Maret yang sebesar 3,1%.

Jika produksi industri dan penjualan ritel meningkat sesuai ekspektasi, diharapkan hal ini dapat memberikan dorongan positif bagi pasar keuangan Indonesia. Mengingat, Tiongkok merupakan mitra dagang terbesar yang memiliki dampak signifikan terhadap ekonomi Indonesia.

 

CNBC INDONESIA RESEARCH

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


Data AS & Situasi Global Bergejolak, Rupiah Melemah ke Rp 15.860/US$


(mza/mkh)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *