Jakarta, CNBC Indonesia – Rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pasca inflasi AS terpantau lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya dan probabilitas bank sentral AS (The Fed) menurunkan suku bunga tahun ini.

Dilansir dari Refinitiv, rupiah ditutup terapresiasi 0,66% di angka Rp15.920/US$ pada hari ini, Kamis (16/5/2024). Penguatan rupiah ini sejalan dengan apresiasi kemarin (15/5/2024) sebesar 0,4%.

Sementara DXY pada pukul 14:58 WIB turun ke angka 104,32 atau melemah tipis 0,02%. Angka ini lebih rendah jika dibandingkan penutupan kemarin yang berada di angka 104,34.



Kemarin, U.S. Bureau of Labor Statistics mengumumkan data inflasi konsumen AS tercatat 3,4% secara tahunan (year on year/yoy) pada April 2024. Tingkat kenaikan harga konsumen AS setara dengan perkiraan konsensus Trading Economics sebesar 3,4%. Tingkat inflasi ini lebih rendah dibanding periode Maret 2024 sebesar 3,5%.

Secara bulanan, inflasi AS ada di angka 0,3% pada April 2024, atau melandai dibandingkan Maret yang tercatat 0,4%.

Inflasi inti di luar harga energi dan pangan melandai ke 3,6% (yoy) pada April 2024, dari 3,8% (yoy) pada Maret 2024. Secara bulanan, inflasi inti melandai ke 0,3% pada April 2024 dari 0,4% pada Maret 2024.

Perlambatan inflasi dan stagnasi penjualan ritel menandakan perlambatan dalam permintaan domestik, yang sejalan dengan tujuan Fed untuk mencapai “soft-landing” bagi ekonomi.

Survei perangkat CME FedWatch Tool juga menunjukkan bahwa probabilitas pemangkasan suku bunga The Fed berpotensi terjadi sebanyak dua kali dengan total 50 basis poin (bps).

Hal ini menjadi angin segar bagi pasar keuangan domestik mengingat jika hal tersebut benar terjadi, maka tekanan terhadap rupiah akan semakin minim.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Investor Tunggu Data AS, Rupiah Kasih Harapan Menguat!


(rev/rev)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *