Jakarta, CNBC IndonesiaIndeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali bergairah pada perdagangan sesi I Kamis (16/5/2024), setelah data inflasi konsumen Amerika Serikat (AS) tumbuh sesuai dengan prediksi pasar sebelumnya.

Per pukul 09:43 WIB, IHSG melesat 0,95% ke posisi 7.248,18. Bahkan, IHSG sempat melesat hingga 1% ketika menyentuh level tertinggi intraday di 7.255,95 sekitar pukul 09:30 WIB.

Nilai transaksi indeks pada sesi I hari ini sudah mencapai sekitar Rp 3 triliun dengan volume transaksi mencapai 4,5 miliar lembar saham dan sudah ditransaksikan sebanyak 293.233 kali.

IHSG kembali melesat di tengah kabar sedikit menggembirakan dari Amerika Serikat (AS), di mana kenaikan inflasi konsumen AS pada April 2024 sudah sesuai dengan prediksi pasar sebelumnya.

Inflasi AS sebagai petunjuk terkait kenaikan harga di tingkat konsumen telah dirilis pada Rabu kemarin pukul 19.30 WIB.Inflasi harga konsumen (consumer price index/CPI) AS tercatat 3,4% secara tahunan (year-on-year/yoy)pada April 2024.

Tingkat kenaikan CPI ASsetara dengan perkiraan konsensusTrading Economicssebesar 3,4%. Tingkat inflasi inilebih rendah dibanding periode Maret 2024 sebesar 3,5%.

Secara bulanan, inflasi AS ada di angka 0,3% pada April 2024, atau melandai dibandingkan Maret yag tercatat 0,4%.

Inflasi inti, di luar harga energi dan pangan, melandai ke 3,6% (yoy) pada April 2024, dari 3,8% (yoy) pada Maret 2024. Secara bulanan, inflasi inti melandai ke 0,3% pada April 2024 dari 0,4% pada Maret 2024.

Inflasi inti AS yang tidak termasuk kenaikan harga komoditas dan makanan minuman tercatat sebesar 3,4% secara tahunan setara dengan perkiraan konsensus. Inflasi inti ini lebih rendah dibanding periode Maret 2024 yang tercatat naik 3,8%.

Data ekonomi terkini di AS memberikan gambaran yang menguntungkan untuk potensi pemangkasan suku bunga oleh bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed).

Dengan CPI naiklebih rendahpada April lalu dan penjualan ritel tetap datar,menjadi sinyal The Fed mungkin akan memulai siklus pelonggaran untuk mendukung ekonomi.

Perlambatan inflasi dan stagnasi penjualan ritel menandakan perlambatan dalam permintaan domestik, yang sejalan dengan tujuan Fed untuk mencapai “soft-landing” bagi ekonomi.

Ekonom memperkirakan tekanan inflasi akan mereda dalam kuartal mendatang, secara bertahap mendekati target 2% dari Fed. Ketua Fed Jerome Powell menyatakan keyakinannya bahwa inflasi akan mundur ke tingkat yang menyerupai tahun sebelumnya.

Pasar keuangan merespons positif terhadap outlook ini, dengan probabilitas pemotongan suku bungadi September semakin meningkat.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


Masih Menanjak, IHSG Bisa Tutup Tahun 2023 di 7.300-an?


(chd/chd)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *