Jakarta, CNBC Indonesia – Perusahaan konsumer raksasa pemilik jaringan kopi terbesar di dunia, Starbucks, mencatatkan penurunan kapitalisasi pasar secara signifikan pasca rilis data kinerja keuangan kuartal-I 2024. Penurunan ini salah satunya terjadi imbas dari boikot yang digaungkan usai serangan Israel ke Palestina.

Harga saham Starbucks ambles 17% dalam dua hari dari semula US$ 88,49 per saham sebelum rilis kinerja, turun menjadi US$ 73,11 per saham pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu. Akibatnya, kapitalisasi pasar Starbucks lenyap hingga Rp 278 triliun.

Perusahaan melaporkan laba bersih sebesar US$ 772 juta (Rp 12,35 triliun) untuk kuartal yang berakhir 31 Maret, turun dari US$ 908 juta pada tahun sebelumnya. Laba per saham adalah 68 sen, turun dari semula sebesar 80 sen per saham.

Pendapatannya mencapai US$ 8,6 miliar (Rp 137,6 triliun) pada kuartal terakhir, meleset dari ekspektasi analis sebesar $9,1 miliar.

Penjualan di toko turun 4% secara global, dengan penurunan lebih tajam terjadi di Tiongkok, dimana penjualan di toko yang sama turun 11%.

Investor mengamati pendapatan perusahaan restoran untuk mencari petunjuk mengenai sentimen konsumen.

Masalah lain juga ikut membebani penjualan, salah satunya gelombang boikot. CEO Starbucks Laxman Narasimhan pekan lalu mengatakan bahwa perusahaannya terus mengatasi kesalahan persepsi seputar mereknya, yang sebagian terkait dengan perang Israel-Hamas. Dia mengatakan saat ini persepsi pelanggan mulai membaik.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Ramai Seruan Boikot ZARA & Starbucks, Siapa Bohirnya di RI?


(fsd/fsd)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *