Jakarta, CNBC Indonesia – PT Bank Mayapada Internasional Tbk. (MAYA) melaporkan penurunan kinerja, yakni laba sepanjang 2023 sebesar Rp 22,1 miliar, merosot 14,98% secara tahunan (yoy). Selain itu, rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) MAYA semakin tipis, sebesar 10,78% pada akhir tahun lalu, menurun 35 basis poin (bps) dari setahun sebelumnya.

Meskipun per akhir tahun lalu, bank milik konglomerat Tahir ini dapat memperbaiki kualitas kreditnya, rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) tercatat masih tinggi. Adapun NPL gross Bank Mayapada sebesar 3,77%, turun 93 basis poin (bps) dan rasio NPL net turun dari 3,36% menjadi 2,94% pada akhir 2023.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pun buka suara terkait hal ini. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan pihaknya mendorong bank untuk senantiasa menerapkan prinsip kehati-hatian dalam operasional kegiatan usahanya.

“Dalam rangka melakukan pengawasan terhadap hal dimaksud, OJK melakukan evaluasi berkala terhadap rasio-rasio prudensial yang menjadi fondasi penting dalam menilai kondisi sebuah bank,” ujar Dian dalam jawaban tertulisnya, Kamis (4/4/2024).

Ia mengatakan rasio-rasio prudensial seperti NPL dan CAR merupakan indikator penting yang menentukan langkah pengawasan. Evaluasi terhadap indikator-indikator tersebut memungkinkan OJK untuk menetapkan strategi pengawasan bank.

“Dalam operasionalnya, kinerja bank dapat mengalami siklus penurunan dan peningkatan kinerja, OJK selalu melakukan pengawasan terhadap operasional bank untuk memastikan kinerja bank terus optimal dan memenuhi standar prudensial yang telah ditetapkan,” kata Dian.

Mengingatkan saja pada akhir bulan Januari lalu, MAYA telah selesai mengadakan aksi penambahan modal melalui rights issue dengan target Rp4,01 triliun. Tahir, melalui berbagai entitasnya telah menggelontorkan total Rp1,99 triliun. Jika diakumulasikan, pemilik Mayapada Group dan rombongan terafiliasi telah mengeksekusi sebanyak 13,33 miliar saham MAYA dalam rights issue.

Rights issue Bank Mayapada ini adalah yang ke-14 kali. Direktur Utama MAYA Hariyono Tjahjarijadi sebelumnya menjelaskan kepada CNBC Indonesia bahwa aksi korporasi itu selain memperkuat struktur permodalan, juga bertujuan untuk ekspansi usaha di bidang ritel perdagangan UMKM.

“Memang rights issue diperuntukkan sebagai salah satu cara untuk memperkuat struktur permodalan, untuk NPL gross akan selalu dijaga di level 2-3%,” ujarnya saat dihubungi CNBC Indonesia, Senin (8/1/2023) lalu.

Dian pun pernah memberikan komentar terkait kondisi bank yang sudah berkali-kali melakukan rights issue namun CAR masih dalam tren menipis.

“[Rights issue] itu ada proses penyesuaian terkait apa yg harus dilakukan action plan dan lain sebagainya tapi itu sebenarnya kan apa namanya proses yang biasa karena pergerakan aset liabilities dan lain sebagainya nah itu nanti yang pengawas akan memastikan berapa persen yg layak CAR-nya,” kata dia di Gedung DPR belum lama ini.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Potret Aktifitas Kontak 157 OJK saat Layani Pengaduan


(fsd/fsd)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *