Jakarta, CNBC Indonesia – Rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) didorong oleh faktor eksternal maupun internal.

Dilansir dari Refinitiv, rupiah ditutup melemah 0,13% di angka Rp15.915/US$. Pelemahan ini semakin memperpanjang tren depresiasi yakni lima hari beruntun dan posisi hari ini juga merupakan yang terparah sejak 1 November 2023.

Sementara DXY pada pukul 14:49 WIB turun ke angka 104,8 atau melemah 0,01%. Angka ini lebih rendah jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan kemarin (2/4/2024) yang berada di angka 104,81.

Tekanan terhadap rupiah terjadi baik dari eksternal maupun internal.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI Edi Susianto menjelaskan salah satu faktor yang membuat rupiah melemah yakni menurunnya optimisme pelaku pasar perihal pemangkasan suku bunga AS tahun ini.

Hal ini terjadi akibat kuatnya data ekonomi AS belakangan ini, khususnya dari inflasi AS yang mengalami kenaikan menjadi 3,2% year on year/yoy hingga data ketenagakerjaan yang masih cukup kuat ditandai dengan unemployment rate yang masih berada di angka 3,9%.

Selain faktor eksternal, pelemahan rupiah juga disebabkan oleh kondisi dalam negeri. Di antaranya adalah tingginya permintaan dolar AS menjelang puasa, outflow di pasar Surat Berharga Negara (SBN) hingga inflasi yang kembali naik.

“Sementara dari domestik ada permintaan USD terkait repatriasi dan masih outflownya asing di pasar SBN. Rilis data inflasi Indonesia kemarin yg di atas ekspektasi, yg banyak disebabkan oleh volatile food, ikut mendorong pelemahan rupiah,” imbuhnya.

Untuk diketahui, inflasi AS melonjak di atas ekspektasi pasar menjadi 3,05% yoy.

Kenaikan inflasi didorong oleh naiknya sebagian besar indeks kelompok pengeluaran, yaitu: kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 7,43%; kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,89%; kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,55%; kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 1,03%; kelompok kesehatan sebesar 2,17%; kelompok transportasi sebesar 0,99%; kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 1,62%; kelompok pendidikan sebesar 1,70%; kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 2,51%; dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 3,56%.

Naiknya inflasi ini cukup mengkhawatirkan pasar karena semakin mendekati batas atas target inflasi BI 2024 yakni di level 3,5%.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


Pelaku Pasar Tunggu Hasil Rapat Dewan Gubernur BI, Rupiah Lanjut Turun


(rev/rev)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *